Perjalanan Terakhir

Bandung, 27 Juni 2015

Aku tak pernah pergi sendirian. Meski kata ayah, minimal sekali seumur hidup kita harus mencoba bertualang sendirian. Katanya bakal ada pengalaman baru yang diperoleh, yang tak akan kita rasakan bila itu perjalanan dalam rombongan. Katanya, karena sendirian, kita akan lebih membuka diri pada sekitar. Membuat kita akhirnya acuh pada spesies-spesies lokal. Bukan hanya manusia, dari semut berjalanan pun mungkin kita akan belajar filosofi kehidupan. Yang kesemuanya itu akan terlewat bila kita hanya fokus bicara dengan rekan seperjalanan.

Aku tak pernah pergi sendirian. Hanya satu alasan: aku ini perempuan. Diriku sungguh iri pada laki-laki. Mereka bisa dengan bebas berkelana seorang diri. Sementara aku—mau setomboi apapun, mau sesering apa berpetualang—tetap saja takut bakal dilecehkan, digerayangi, apalagi diperkosa. Amit-amit. Itulah yang membuatku takut untuk bertualang sendiri. Apalagi ke daerah baru yang aku belum mengenal karakter individunya.

Aku suka bertualang. Belasan air terjun kuhampiri. Puluhan pantai kudatangi. Sunset sempurna, tatkala bulatnya mentari perlahan tenggelam tepat di permukaan laut tanpa terhalang awan segumpal pun, pernah memintaku jadi saksi. Namun, aku mulai bosan dengan semua ini. Aku butuh tantangan baru, dosis anyar yang akan membuatku terus ketagihan pada indahnya nusantara. Aku mau naik gunung.

ilustrasi 0

Kenapa tak Rinjani? Terindah di Indonesia. Malah (katanya) terindah di dunia. Pasti akan langsung membuatku kecanduan mendaki gunung.

Tapi, ampuun…! Susahnya mencari restu orang tua, apalagi ibuku. Bikin aku tak habis pikir.

Tak tahukah, Engkau, Bu? Anakmu ini sudah berpengalaman dalam urusan mengembara. Aku yakin mendaki gunung tak akan jauh berbeda. Lagi pula, aku tak ‘kan pergi sendirian. Tak usahlah khawatir.

Namun, aku ini memang anak yang bandel. Mau dilarang seperti apapun, masa bodoh! Aku baru akan membatalkan niatku, jika yang melarang adalah ayah. Aku cuma mau patuh ke Ayah. Wajar, kan, bila anak perempuan lebih dekat pada ayahnya.

Ah sial! Susahnya mencari teman mendaki ke Rinjani. Ada yang bilang baru sibuk, waktunya kurang pas. Ada yang enggak sanggup lantaran mahal. Ada yang bilang mau, eh, malah batal.

Parahnya, hingga dua minggu sebelum keberangkatan, aku belum menemukan satu teman pun. Aku benar-benar frustasi. Masak, mimpi agungku ini harus tertunda. Kalau tetap tiada teman, bisa-bisa surat izin dari ibu—yang akhirnya kudapatkan melalui perang urat syaraf—bisa dicabut.

Tiba-tiba ayahku muncul sebagai penengah. Ia mau menemaniku mendaki Rinjani. Dengan satu syarat, akulah yang mengurusi segala kebutuhan: tiket, peralatan mendaki, bahan makanan, dan jadwal perjalanan. Ayah hanya mau terima bersih, bayar keseluruhan biaya saja. OK, siap, bos! Ibu tak ‘kan lagi bisa menentang. Terima kasih, Ayah. Engkau pahlawanku.

Di hari keberangkatan, aku baru tahu kalau ayah mengambil cuti demi bisa menemaniku. Ia meminta perlop lima hari dari jatahnya yang cuma dua belas hari setahun. Total kami mempunyai waktu seminggu penuh untuk perjalanan ini. Jika merujuk pada jadwal yang kususun, waktu tujuh hari adalah rencana-A, yang tidak memberi ruang untuk kesalahan, kegagalan, atau ketinggalan apapun. Rencana-B dan rencana-C sudah invalid. Namun aku akan membuktikan pada ayah bahwa aku bisa. Aku sudah belajar banyak dari ayah, bagaimana selama ini ia mengelola perjalanan dengan kami maupun timnya. Aku tak mungkin gagal. Aku tak boleh gagal. Aku tak mau mengecewakannya.

Perjalanan pun dimulai tatkala kami menaiki gerbong kereta ekonomi Sri Tanjung di Stasiun Purwosari, Kota Solo. Semangatku meluap ketika aku menunjukkan dua tiketku ke kondektur kereta. Kondektur itu membolongi tiketku sambil tersenyum simpul, tetapi dengan mata yang sedikit sayu. Entah apa arti tatapan sayunya itu. Namun bagiku, senyum simpulnya cukup untuk mengobarkan semangat bertualangku. Ini akan menjadi perjalanan terhebat dalam hidupku. Mendaki puncak Rinjani, 3726 mdpl.

Namun, sepertinya semangat ini hanya milikku sendiri. Ayah tampak biasa saja, ekspresinya datar seperti hari biasa. Mungkin ini memang perjalanan sepele bagi ayah, yang sudah pernah menjelajah ke pelbagai penjuru bumi. Atau mungkin, pikiran ayah sedang melayang ke pekerjaannya di kantor, yang terpaksa ditinggalkan demi menuruti rengekan anak gadisnya yang manja ini. Maafkan aku, Ayah.

Sial, lama-lama bara semangatku redup jua. Padahal kereta baru sampai Madiun. Sri Tanjung belum lagi menyentuh Stasiun Gubeng, Surabaya, yang menjadi titik tengah dari perjalanan membelah Jawa Timur ini. Sri Tanjung masih jauh dari Banyuwangi, stasiun akhir dari perjalanan selama dua belas jam ini.

Sialnya, ketika api semangatku akhirnya benar-benar padam, ayah masihlah diam seribu bahasa. Ia entah tidur, atau pura-pura tidur, sepertinya masih enggan diajak bicara. Aku kangen ayahku yang dulu, yang murah senyum, yang lihai melontarkan banyolan yang membuatku jadi terpingkal-pingkal. Tapi, itu ayahku yang dulu. Ayahku kini jadi sosok yang pendiam, sejak ia terbangun dari operasi jantungnya dua tahun lalu. Namun, meski ayah kini begitu berat bibir, aku tetap merasa bersyukur. Ia diberi kesempatan hidup untuk yang kedua kalinya, usai melalui masa kritis itu. Aku bersyukur, biar kini jarang membuatku tertawa, ia masih ada di sisiku, mendampingiku. Seperti saat ini, menemaniku mendaki Rinjani.

Fakta bahwa ayah memiliki riwayat penyakit jantung sebenarnya membuatku gundah dan bimbang. Di satu sisi, aku bahagia karena akhirnya ada yang mau menemaniku melakukan perjalanan ini. Terlebih itu adalah ayahku. Di sisi lain, aku takut. Aku tak kuasa bila ini akan menjadi perjalanan terakhir bagi….

Ah, sudahlah. Aku sudah menentukan pilihan. Dan di sinilah kini kami berada, di atas bus yang membawa kami dari Gilimanuk menuju Padang Bai, Bali.

Waktu kami naik tadi, bus sudah hampir penuh. Tepaksa kami duduk di deretan kursi yang berbeda. Beruntung, saat sampai di Terminal Ubung, Denpasar, banyak penumpang yang turun. Aku segera pindah ke kursi di sebelah ayah. Ayah duduk di sisi tengah, sementara aku di tepi jendela. Saat aku hendak duduk, ayah menyodorkan tangannya. Ia memintaku memasrahkan tas 65 liter yang sedang kugendong. Ayah lalu memangku tas yang lumayan besar itu.

Ayah melakukan semua tindakan ini tanpa berucap satu kata pun. Tapi itu semua mampu membuatku tersenyum, sekaligus menghangatkan hatiku. Aku sedang merasakan cinta murni seorang pria, cinta seorang ayah pada putrinya. Ia duduk di sisi tengah untuk melindungiku, mengayomiku. Ia meminta tasku karena tak ingin melihat anaknya memikul beban yang terlalu berat. Aku cinta ayahku. Kelak, aku ingin punya suami yang bisa menjaga dan menentramkanku layaknya ayah.

Bus mulai melaju meninggalkan Terminal Ubung, lalu keluar dari Kota Denpasar. Perlahan aku mulai dimanjakan oleh lansekap pesisir selatan Pulau Dewata. Sesekali bus melintasi pura kecil berukiran khas Bali. Aku ingin membincangkan keindahan ini dengan ayahku. Tapi sayang, ia masih juga pura-pura tidur.

Aku rindu ayahku yang dulu. Aku rindu ayahku yang banyak bicara dan mengajariku banyak hal. Aku jadi ingat dulu saat pertama kali tamasya ke Bali. Kala itu aku masih kelas lima SD. Kantor ayah mengadakan piknik keluarga. Aku dan ibuku turut serta. Saat itu, tiap kali melintasi area-area baru, ayah selalu menyebutkan nama lokasi itu. Kerennya, beberapa tempat itu belum pernah dikunjungi ayah sama sekali. Ayah bisa mengenal begitu banyak tempat karena sangat hobi membaca peta. Mungkin dari ayahlah, kemampuan navigasiku berasal. Selama ini aku memang jago dalam urusan navigasi. Alhasil, tiap kali jalan-jalan bareng teman, pasti aku yang disuruh jadi penunjuk jalan.

Dari atas feri di Selat Lombok akhirnya untuk pertama kali aku bisa melihat mimpi tertinggiku. Gunung Rinjani berdiri gagah di depan sana. Kembali aku ingin berbagi keindahan ini dengan ayahku. Tapi, ah sudahlah. Ayahku malah menghilang entah ke mana. Lagi malas aku memikirkan dia. Lebih baik aku mencurahkan keindahan ini lewat untaian puisi saja. Siapa tahu kelak aku akan menuliskan cerita perjalananku ini kedalam sebuah novel. Dan puisi ini akan terus mengingatkanku akan paduan rasa yang kini bergejolak di dalam hatiku.

Saat ini, aku dan ayahku sudah tiba di depan balai TNGR (Taman Nasional Gunung Rinjani) yang ada di desa Sembalun. Sepertinya ayahku betul-betul ingin menggemblengku menjadi petualang tangguh. Masih saja ia menugaskanku untuk melakukan registrasi di balai, sendirian.

Saat masuk, petugas yang sedang duduk di balik meja menatapku dengan mata menyelidik. Aku menghampirinya. Lalu ia menanyakan tujuanku.

“Mau registrasi, Mas.”

Kali ini ia menunjukkan wajah sangsi. Aku tahu ia sedang memikirkan apa. Ia pasti sedang berfikir: apa enggak salah cewek mendaki Rinjani sendirian. Sebelum pertanyaan itu terucap, lebih baik kujawab terlebih dulu.

“Tenang saja, Mas,” jawabku. “Saya enggak sendirian, kok. Saya naik bareng ayah saya. Itu di luar.”

Petugas itu celingak-celinguk melihat keluar, cukup lama. Aku akhirnya ikut celingukan ke arah luar. “Aduh… ayah ke mana, sih…? Pakai menghilang segala,” kataku dalam hati sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Tenang, Mas. Ayah saya sudah pernah mendaki Rinjani sebelumnya. Jangankan Rinjani, Kilimanjaro juga pernah,” kataku coba meyakinkan si petugas.

Sebenarnya aku tak yakin seratus persen apakah ayah pernah mendaki Rinjani sebelumnya. Apalagi Kilimanjaro. Itu kuucapkan hanya demi meyakinkan petugas agar mengizinkan kami mendaki. Kan, enggak lucu, sudah jauh-jauh sampai Pulau lombok, lantas kami tak jadi mendaki.

Meski tak seratus persen, tapi aku yakin sembilan puluh persen bahwa ayahku pernah mendaki Rinjani. Dari salah satu ceritanya saat meninabobokkanku dululah aku jadi yakin bahwa Rinjani adalah gunung terindah di Indonesia, bahkan di dunia. Tak mungkin ayah bisa memberikan label semacam itu, bila belum pernah mendaki ke Rinjani.

ilustrasi 1Akhirnya karcis sudah digenggam. Selembar kartu plastik berwarna hijau pun telah terikat di tas karier. Perjalanan bedua, bersama ayahku, mendaki Rinjani pun dimulai. Sekali lagi ayah menguji kemampuan berkelanaku. Ia menyuruhku jalan di depan. Apakah aku dapat memimpin perjalanan dengan baik? Akankah aku bisa membaca jalur dengan akurat? Atau, jangan-jangan… ayah sengaja melakukannya agar bisa menyesuaikan ritme sesuai dengan kecepatan melangkahku, yang tentu jauh lebih lambat darinya.

Aku jatuh cinta pada Rinjani. Padang savana di bulan Juli ini membentang luas layaknya permadani kuning. Inilah savana yang dulu dikisahkan ayah. Savana yang amat jarang ditemukan di Pulau Jawa, tapi tersebar luas di Kepulauan Nusa Tenggara. Di kiri sana, puncak Rinjani berdiri sombong tertutup awan, tak mau diintip pengagumnya. Sementara di belakang sana, Desa Sembalun makin lama terlihat semakin kecil. Hanya dua tower seluler yang menjadi penanda bahwa desa yang itu adalah Sembalun.

Tiba di Bukit Penyesalan, tenagaku sudah benar-benar habis. Satu botol air satu setengah liter sudah kuludeskan sendiri. Jalanku mulai sempoyongan dan aku sepertinya mulai berhalusinasi.

Ayah lalu mendekatiku. “Semangat, Nak. Sebentar lagi. Kamu pasti bisa,” ucapnya menyemangatiku.

Ini adalah tutur pertama dari mulut ayah untukku di sepanjang perjalanan ini. Aku kesal, kenapa harus menunggu aku sekarat macam ini, baru ayah mau bicara padaku. Namun aku senang, akhirnya ayah mau berujar denganku. Artinya, kami akan melanjutkan perjalanan ini tanpa saling berdiam diri lagi. Tapi, lagi-lagi aku kesal, aku sedih. Aku teringat saat berada di bus dari Gilimanuk menuju ke Denpasar. Saat itu ayah mengobrol dengan penumpang di sebelahnya. Aku juga ingat saat kami berada di feri dari Padang Bai ke Lembar, di Pulau Lombok. Ayah waktu itu berbincang seru dengan beberapa penumpang. Tapi kenapa…, justru dengan aku, anaknya sendiri, ayah malah seolah bisu. Baru sekarang ia mau bicara—di jarak tinggal tiga kilo dari puncak, dari perjalanan yang totalnya sekitar seribu kilometer.

“Nak, sepertinya cara ing madya mangun karsa (di tengah, jalan bersama, memberikan semangat) tak lagi mempan buatmu,” kata ayah. “Dari tadi ayah sudah memberimu semangat, tapi sepertinya tak lagi berdampak untukmu.”

Aku mengangguk pelan, tanda setuju.

“Ayah jalan duluan saja, ya. Ing ngarsa sung tuladha, di depan memberi contoh. Ayah akan menunggumu di pucuk tanjakan Penyesalan ini. Nanti kalau sudah sampai, ayah akan melambaikan tangan dan memanggil namamu. Supaya kamu tahu tinggal sebegitu jaraknya. Lalu kamu harus semangat menyusul ayah.”

‘Ta…,’ aku tak mampu mengungkapkan isi hatiku. ‘Tapi, ayah. Mungkin engkau memang telah menggemblengku agar menjadi petualang yang tangguh. Tapi…, tapi aku ini anak perempuan, yang takut jika berjalan sendirian. Apalagi di tengah hutan seperti ini.’

Kini ayah benar-benar sudah berjalan di depan. Tubuhnya besarnya, yang menggendong tas 75 liter, tak lagi terlihat. Tiba-tiba langit menggelap. Kabut mulai turun. Awan menyelimuti punggung gunung tempatku berdiri. Jarak pandang makin berkurang. Ketakutanku pun kian menjadi.

Aku memutuskan untuk berjalan lagi. Berhenti di tempat berkabut seperti ini hanya akan membuatku semakin kedinginan. Jarak pandang pun kian menipis. Pohon pinus yang tadi jumlahnya ratusan, kini tinggal belasan yang masih terlihat.

Tiba-tiba aku sampai pada persimpangan jalur setapak. Jika kondisinya sedang cerah, pasti akan mudah bagiku untuk menemukan petunjuk arah—mungkin berupa papan tulisan atau sekedar tali berwarna terang diikatkan ke dahan. Namun karena kabut tebal ini, aku tak berhasil melihat satupun petunjuk.

“AYAAHH…!” teriakku tiba-tiba.

Lingkungan yang dingin dan berkabut tebal akhirnya membuat pertahanan mentalku jebol. Aku benar-benar ketakutan. Tanganku tremor. Andai ini kondisi normal, tentu dengan mudah aku bisa menentukan harus belok ke kanan atau ke kiri. Tapi, kali ini tidak. Aku gagal melakukannya. Bahkan aku kini gusar, jangan-jangan persimpangan ini bagian dari halusinasi yang menderaku.

“AYAAAAH…!” Kembali aku berteriak, kali ini lebih kencang dan panjang. Tapi, masih tak ada jawaban.

“Semangat, Nak. Sebentar lagi. Kamu pasti bisa!” Tiba-tiba di kepalaku kembali melintas wejangan yang tadi diucapkan ayah. Kata-kata itu langsung menenangkanku. Ayah sedang mengujiku. Seharusnya aku tidak panik dan tetap fokus. Aku harus bisa melewati persimpangan ini. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa.

Aku coba mengamati lokasi tempatku berdiri sekali lagi. Kali ini lebih seksama. Aku mencari petunjuk itu. Aku harus teliti. Nah, akhirnya kutemukan. Jalan di sebelah kanan ditumbuhi gundukan rumput tepat di tengahnya. Aku yakin gundukan rumput ini sengaja ditanam sebagai petunjuk, bahwa bukan ini jalurnya.

Akhirnya aku tiba di Plawangan Sembalun, tempatku menginap malam ini. Sialnya kabut tebal masih menyelimuti. Padahal kata ayah, seharusnya aku bisa melihat keindahan Segara Anakan dari sini.

Aku mencari-cari ayahku. Tak sulit untuk menemukannya. Dia sedang membangun tenda bersama pak porter. Beruntung rasanya kami menggunakan jasa porter: ada yang membantu mendirikan tenda, ada yang mengambilkan air, dan ada yang mebuatkan makanan. Soalnya, kalau kami harus melakukan semua itu sendiri, ampun menyerah, capek rasanya. Sekedar info, aku tadi diwajibkan menyewa porter oleh petugas TNGR yang sepertinya ragu apakah aku tahu jalur pendakian Rinjani atau tidak.

Malam di Plawangan Sembalun ternyata dingin bukan main. Tapi aku kesal, ayah langsung tidur begitu saja. Padahal aku ingin mengobrol panjang lebar dengannya. Momen ini terlalu sempurna untuk dilewatkan. Pasti ini akan menjadi waktu yang berkualitas bagi kami berdua. Aku juga berharap ayah menceritakan dongeng sebelum tidur, laiknya waktu aku kecil. Aku kangen saat-saat itu. Tapi sudahlah, lebih baik aku cepat tidur. Besok kami harus bangun pagi untuk summit attack. Ayah juga harus menjaga kesehatannya.

Perjalanan menuju puncak, meski tanpa ransel, tetap saja berat. Apalagi saat sampai di tanjakan pasir. Astaga, sekali melangkah merosotnya tiga kali. Tapi, untungnya kali ini ayah tak jalan duluan kayak kemarin. Ia malah berjalan tepat di belakangku, sambil mendorong punggungku. Tut wuri handayani.

Setelah melakukan perjuangan selama enam jam, akhirnya kami tiba di puncak Rinjani, 3726 mdpl. Sedikit sesal, karena kami gagal melihat matahari terbit dari puncak. Tapi semua rasa kecewa itu segera sirna tatkala aku melihat pemandangan yang disuguhkan di depan mata.

Di bawah sana, aku melihat betapa luasnya Danau Segara Anakan, dengan permukaan airnya yang berwarna sian metalik akibat campuran belerang dan pantulan sinar matahari. Di tengah-tengahnya berdiri Gunung Barujari, Si Rinjani muda, dengan lubang kawahnya yang berpasir merah. Aku juga menyaksikan cincin kaldera Rinjani yang memiliki belasan puncak. Pemandangan yang mahaindah. Aku kini percaya pada ayah, bahwa ini adalah gunung terindah di Indonesia, bahkan di dunia.

Ayah di puncak Rinjani ini aku teramat bahagia. Bahagia yang sejati. Bahagia yang harus dibagi, kepada yang terkasih. Aku bahagia bisa bersamamu di sini, berbagi keindahan ini. Aku pun tahu kamu juga sedang bahagia. Lihat! Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum.

Aku merasa dekat denganmu di pucuk Rinjani ini. Karena aku kini berada di atas awan. Sama denganmu… yang telah berada di langit.

Di sini aku merasa dekat denganmu. Teramat dekat. Sama seperti tiap kali aku datang dan berdoa di sisi pusaramu.

ilustrasi 2

– –
Sebuah cerpen All Chussna
oleh san

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Dipublikasi di Adventure, Cerpen, Cinta | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes of The Day #1

Bandung, 11-5-15

A: “Gue suka bingung sama orang yang update status bilang  ‘Aduh kok tanda2 aku mau sakit ya…’, ‘Udah dua hari satu setengah malem flu gak sembuh2 nih’, atau apalah. Pokoknya yang update status bilang kalau dia lagi sakit.”

B: “Nha, emang kenapa?”

A: “Kalo ngadu sakit mah harusnya ke Allah. Allah yang ngasih kesembuhan. Nah, kecuali kalau dia pengen pamer baru bener tuh update status. Pamer jalan-jalan kek, belanja baju baru kek, makan di resto nek, itu baru bener. Kalau pamernya ke Allah kan gak guna, secara Dia yang punya semua ini. Silahkan deh kalo mau pamer di semua sosmed yang dia punya, mau Fb, Twitter, Ig, Path, Bm, Line, Wa, Wechat, YM, Friendster (kalo masih punya), Mirc, Mig33, apalah ampe sejadul-jadulnya sonoh….”

B: “Bener juga yak. Jadi ‘Ngadu sakit tu ke Allah, pamer prestasi baru ke manusia‘ kan?”

A: “Yup!”

#   ===s=e=v=e=r=a=l= =s=e=c=o=n=d=s= =k=e=m=u=d=i=a=n===   #

C: “Gue gak setuju!”

B: “Lah…, kenapa?”

C: “Kan, siapa tahu ada yang respons trus ngucapin get well soon. Atau malah ada yang dateng trus bawain kue.”

A: “Elah! Pasti kamu miskin perhatian yak? Pasti jomblo yak? Jablay yak?”

B: “Ada benernya juga kata C. Kalo makin banyak temen kita yang tahu, siapa tahu makin banyak juga yang ngedoain kita biar cepet sembuh.”

*krik_krik_krik_seconds_kemudian…

B: “Jadi…, Aku pilih yang mana?”

A: “si A, si A.”

B: “Aku suka yang mana?”

C: “si C, si C.”

D: “Elah! Kenapa jadi malah nyanyi langu dangdut Sedang-Sedang Saja – Vetty Vera! Padahal gue udah serius merhatiin dari tadi. Ya udah lah! Cukup sekian dan terima kasih.”

– –
san

Dipublikasi di Inspirasi, Lucu-lucuan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

PREMIERE FILM “PRAU ROMANTIS”

Bandung, 14 Januari 2015

MC: “Selamat malam Tuan dan Nyonya. Terima kasih telah hadir pada pemutaran perdana Film ‘Prau Romantis’. Tak usah berlama-lama, mari kita sambut sutradara dari ‘Prau Romatis’, Sigit Aji Nugroho.”

Sutradara: “Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih pada Tuhan YME. Karena berkat izin-Nya, saya tak jadi menyerah dalam menyelesaikan proyek film ini.

Kedua, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Asisten Kameraman, Alex aka. Arif Ichi, yang selalu setia berpetualang bersama.

Tak usah berlama-lama lagi, mari kita saksikan bersama-sama..”

Akhir kata:
Coba bayangkan, jangan-jangan kita tak pernah mendaki Prau bersama, karena..

SEMUA INI HANYA MITOS!

– –
Sebuah karya All Chussna
oleh san

Dipublikasi di Adventure, Karya Video | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sebuah Kisah Cinta Paling Romantis

Bandung, 9 Desember 2014

Jika ditanya tentang kisah cinta paling romantis, siapa nama pasangan kekasih yang akan Kamu sebutkan? Sebagian orang pasti akan bilang Romeo dan Juliet. Sebagian lagi mungkin menjawab Rama dan Shinta. Jawaban orang bisa beda-beda, tergantung latar belakang asal dan budayanya. Tapi, bila pertanyaan itu disampaikan kepadaku, jawabannya adalah kisah cinta Arai dan Zakia Nurmala.

Arai dan Zakia berasal dari pulau Belitong, Negeri Laskar Pelangi. Arai adalah seorang simpai keramat, satu-satunya anak yang menjadi garis keturunan keluarganya. Saat masih kecil ia ditinggal mati ayahnya, keluarga kandung terakhir yang tersisa. Setelah kepergian ayahnya, dia dirawat sang paman yang tak lain adalah ayah Ikal, tokoh utama tetralogi Laskar Pelangi.

Sejak itulah Arai dan Ikal bersahabat, mereka belajar di sekolah yang sama. Mereka bermain, bertingkah nakal, dan memupuk mimpi bersama. Hingga akhirnya masuklah mereka ke sebuah Sekolah Menengah Atas, SMA 1 Manggar, satu-satunya SMA di pulau Belitong kala itu. Di sinilah Arai bertemu dengan Zakia Nurmala, cinta pertamanya.

Zakia Nurmala berasal dari keluarga menengah. Bukan keluarga kaya, tapi bukan pula hidup miskin layaknya kebanyakan warga Belitong. Sementara, ayah angkat Arai , ayah Ikal, adalah seorang pegawai kasar di PN Timah dengan gaji pas-pasan. Kondisi ini diperparah dengan jatuhnya harga timah dunia saat itu, yang berakibat PN Timah harus gulung tikar. Ratusan pegawai yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan raksasa inipun harus di-PHK, termasuk ayah Arai.

Zakia digambarkan sebagai gadis yang sederhana. Secara fisik wajahnya manis, meski tak super cantik. Wataknya cenderung lugu, layaknya kebanyakan gadis Belitong. Tapi, bagi Arai, Zakia adalah gadis yang mempesona. Tak pelak Arai si anak kampung yang masih ingusan dalam urusan cinta pun bisa tergila-gila dan mati-matian mengejarnya. Itulah gambaran yang diberikan oleh Andrea Hirata di novel Sang Pemimpi (Sekuel ke-2 laskar Pelangi). Di versi filmnya sendiri, Zakia Nurmala diperankan oleh Maudy Ayunda, kalau yang satu ini tak bisa diragukan lagi pesonanya. Ya nggak?

Dari sudut pandang Zakia, tak ada yang spesial dari Arai. Arai adalah kebanyakan remaja Belitong. Badannya lumayan tegap dengan kulit yang legam imbas dari kerja serabutan yang harus dijalaninya sebagai kuli panggul di pasar, juga kuli ikan dan es di lokasi pelelangan ikan. Pekerjaan seperti itu memang banyak dilakukan anak-anak Belitong demi membantu ekonomi keluarga.

Arai adalah pria yang lugu. Apa yang ia tahu tentang merayu seorang gadis ya hanya apa yang biasa dilihatnya dari orang Melayu sehari-hari. Sudah mengalir dalam darah orang Melayu, budaya berpantun di segala perlu. Acara adat kah, ngobrol di warung kopi kah, juga berkaitan dengan merayu seorang wanita. Karenanya, itu pula lah yang dilakukan Arai untuk memberikan kode kepada Zakia Nurmala, bahwa ia menyukainya.

Sayangnya bagi Zakia Nurmala itu semua adalah angin lalu. Seorang bujang standar merayunya dengan pantun. Ahh.. entah berapa banyak bujang yang pernah melakukannya. Ia tak ingin yang biasa. Ia mau si laki-laki yang mendekatinya berbuat sesuatu yang lebih dari sekadar kebanyakan remaja Melayu lakukan, misalnya menyanyikan lagu atau bermain alat musik. Romantis tentu.

Akhirnya Arai mendengar juga tentang keinginan Zakia Nurmala itu. Tapi, sayang Arai sama sekali tak punya keahlian bermain musik. Biola dan saxophone yang begitu ampuh untuk melelehkan hati wanita tak pernah dipegangnya. Bermain gitar pun Ia juga tak bisa. Paling yang pernah dimainkannya hanya rebana. Masak mau nyekil cewek pakai rebana?

>> Bersambung ke: [Part 2 …]

[Kisah ini diadaptasi dari kisah Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov (Tetralogi Laskar pelangi) karya Andrea Hirata.]

– –
Sebuah karya saduran All Chussna
oleh san

Dipublikasi di Cerpen, Cerpen Arai & Zakia | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sebuah Kisah Cinta Paling Romantis [Part 2 …]

>> Mulai dari: [Part 1]

Bandung, 9 Desember 2014

Beruntunglah Arai adalah seorang pemimpi gila. Dia adalah anak kreatif infinitif. Juga Arai adalah pemuda pantang menyerah. Ia tak mau mundur meraih mimpinya, tangan Zakia Nurmala agar ia tak bertepuk sebelah tangan. Tetapi, ia masih belum tahu apa yang harus dilakukannya. Yang jelas ia ingin mempersembahkan yang terbaik, hal paling romantis, bagi gadis pujaannya, Zakia Nurmala.

Suatu hari, Arai sedang berada di dermaga menjadi kuli panggul ikan. Saat itulah ia mendengar alunan musik melayu terdengar nyaring dari kapal yang baru saja merapat. Sesaat kemudian terdengar suara menyanyi yang begitu merdu lekat dengan cengkok Melayu. Seorang pria flamboyan melangkah paling depan diiringi rombongan yang memainkan alat musik. Tampang pria ini sebenarnya biasa-biasa saja, tapi di mata Arai dia begitu karismatik. Sebuah kemeja bunga-bunga dengan warna mencolok dikenakan pria itu. Celana ujung lebar menjadi pelengkapnya dengan warna yang jelas-jelas kontras dari atasan. Rambutnya disisir begitu klimis setelah dolesi minyak banyak-banyak. Lalat pun sepertinya akan terpeleset jika hinggap di sana.

Arai mengikuti rombogan ini berkeliling kampung. Warga kampung pun segera menengok ke luar rumah demi mendengar pertunjukan meriah dadakan di jalanan. Rombongan ini akhirnya berhenti di depan sebuah rumah. Di teras rumah itu ada janda muda yang sedang mengeringkan rambutnya usai mandi keramas. Sebuah alunan lagu cinta segera dinyanyikan oleh sang pria flamboyan. Si wanita pun terpesona, mukanya memerah. Akhirnya saat masuk kebagian reff, si wanita lari terbirit-birit ke dalam rumah tak mampu lagi menyembunyikan rona merah di wajahnya akibat rasa malu dan hati yang meleleh.

Arai memberanikan diri untuk mendekati pria itu. Akhirnya diketahui nama pejantan ini adalah Bang Zaitun. Dia memiliki empat istri, benar-benar penakhluk hati wanita. Arai hanya bisa tertunduk malu ketika ditanya apakah ia pernah pacaran. Soalnya ia belum pernah pacaran sama sekali. Ia ingin belajar pada Bang Zaitun cara menakhlukkan hati wanita. Zaitun langsung melambung karena diminta menjadi guru dalam urusan cinta. Ia makin sombong. Lalu ia pamer lagi, katanya pernah memacari lebih dari 50 wanita, luar biasa. Untungnya, pria ini menjawab iya, ia bersedia mengajari Arai, si anak ingusan dalam urusan cinta.

Beberapa hari kemudian Arai menemui Ikal dan Jimbron, sahabatnya. Mereka bertiga adalah genk karib di SMA bahkan tinggal satu kosan. Arai bercerita bahwa ia telah menemukan seorang guru yang bisa mengajari laki-laki cara menakhlukkan hati wanita. Mereka sepakat berkunjung ke rumah Bang Zaitun. Di depan tiga bujang ini, Bang Zaitun kembali mempertunjukkan bakat mautnya. Akhirnya Jimbron dan Ikal sepakat mengamini pendapat Arai, bahwa laki-laki flamboyan ini pantas dijadikan guru.

Berhari-hari Arai berguru pada Bang Zaitun. Arai diminta memilih lagunya sendiri untuk dinyanyikan dihadapan Zakia Nurmala. Sementara, Bang Zaitun akan mengajarinya cara bermain gitar untuk lagu itu.

Sedikit demi sedikit pun Arai mulai belajar bermain gitar. Mulai dari mengenal kunci. Dihafalkannya dengan teliti satu persatu posisi jemari kiri untuk membentuk kunci. Meski terasa perih ujung-ujung jemarinya, ia tetap semangat berlatih, ini akan bukti perjuangan cintanya untuk Zakia.

Terdapat sedikit perbedaan cerita antara versi buku dan film di bagian ini. Di versi buku, Arai ingin menyanyikan sebuah lagu bahasa inggris. Sedangkan di versi film, Arai menyanyikan lagu Melayu.

Akhirnya tiba waktunya bagi Arai menyerang hati Zakia Nurmala. Arai sudah bergaya maksimal. Rambutnya sudah klimis ganteng sekali. Sementara pakaian yang ia gunakan adalah yang terbaik, yang bisa ia temukan. Sepatunya menghentak keras ke tanah mengisyaratkan keyakinannya melangkahkan kaki ke rumah Zakia Nurmala. Dua teman karibnya, Ikal dan Jimbron setia mengawal di belakang memberikan dukungan kepada sang pejuang cinta.

Mendekati rumah Zakia, Ikal dan Jimbron mulai mencari tempat bersembunyi. Arai berjalan sendirian sembari menggendong gitar senjatanya. Kini Arai sudah berdiri tepat di depan jendela kamar Zakia yang sedikit terbuka.

“Duhai, Adekku sayang. Izinkanlah Abang untuk menyanyikan sebuah lagu buat Adek.”

Sebuah lagu merdu pun mengalun. Suara vokal terdengar begitu mendayu-dayu lantaran terluncur dari hati paling dalam. Meski tak lancar benar, tak ada satupun kunci yang salah dalam petikan gitar Arai. Ternyata dia memang telah belajar sungguh-sungguh demi adek tercinta, Zakia Nurmala.

Zakia tak berani tampil di jendela kamarnya. Ia hanya bersembunyi tepat di belakang daun jendela. Demi mendengar lantunan lagu pemujanya, ia pun harus mengakui hatinya terpaut. Hatinya benar-benar luluh. Wajahnya merah malu tak karuan. Jikalau punya sayap, pastilah ia sudah terbang ke awang-awang. Tentu kalian semua ingat, di film itu Zakia Nurmala diperankan oleh Maudy Ayunda muda. Pemandangan Zakia (Maudy) yang sedang tersipu malu pastilah bikin jatuh cinta, keunyuan tanpa batas.

Arai pun sekilas melihat gerak-gerik di balik jendela. Ia yakin itu pasti gadis pujaannya, Zakia Nurmala. Ia makin percaya diri, pasti Zakia sudah terpaut pada kail cintanya.

Memasuki bagian akhir lagu, akhirnya Zakia menampakkan wajahnya ke luar. Terpampang jelas di wajahnya semburat rasa malu. Zakia terpesona. Sebuah senyum simpul yang amat manis ia hadiahkan kepada Arai yang telah meluluhkan hatinya. Tak kuasa berlama-lama, Zakia langsung menghilang dari jendela lalu bergulat di tempat tidurnya.

Arai membuat genjrengan terakhir di gitar perjuangannya. Arai langsung lari menyongsong Ikal dan Jimbron di persembunyiannya. Kedua anak ini menyambut sang pejuang dengan senyuman lebar. Mereka bahagia melihat aksi kawannya yang telah berhasil melakukan serangan cinta pada Zakia Nurmala.

Mereka kemudian berlari di sepinya malam Kota Manggar. Jangkrik pun rela diam sejenak demi memberikan kesempatan Arai bereforia. Angin malam berhenti bertiup demi menghangatkan hati Arai yang sedang berbunga-bunga. Arai berlari dengan penuh semangat magis akan cinta. Langkahnya begitu ringan, beban ungkapan cintanya telah tersalurkan dengan akhir bahagia. Lari Arai pun kian laju sembari berteriak, “AKU TELAH MENDAPATKAN HATI ZAKIA NURMALAAAAA…!!”

Namun, hanya di situlah kisah cinta anak Melayu berujung. Mereka begitu lugu, tak ada langkah lebih jauh lagi. Tapi, keduanya telah sama-sama tahu.

>> Bersambung ke: [Part 3 …]

[Kisah ini diadaptasi dari kisah Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov (Tetralogi Laskar pelangi) karya Andrea Hirata.]

– –
Sebuah karya saduran All Chussna
oleh san

Dipublikasi di Cerpen, Cerpen Arai & Zakia | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sebuah Kisah Cinta Paling Romantis [Part 3 …]

>> Mulai dari: [Part 1]

Bandung, 9 Desember 2014

Waktu terus berlalu, akhirnya mereka lulus SMA. Arai dan Ikal pun harus merantau ke Jakarta demi mengejar mimpi yang telah dipupuk sang guru guna meraup madu ilmu di altar Universitas Sorbonne, Prancis. Berat bagi Arai meninggalkan sebagian hatinya di pulau Belitong. Namun, bagi Ikal, langkahnya jauh lebih ringan. Ia dengar cinta pertamanya, A Ling, tinggal di Jakarta.

Akhirnya mereka berangkat jua. Arai ingin merantau ke Jakarta, memperoleh penghidupan yang layak, agar kelak bisa membahagiakan Zakia Nurmala. Ia akan berjuang keras membanting tulang demi Zakia.

Arai dan Ikal menumpang kapal dagang milik saudagar yang mereka kenal. Mereka sudah mendapatkan doa dan restu dari orang tua. Mereka juga sudah berpamitan dengan Jimbron yang memilih untuk tetap tinggal.

Kapal perlahan mulai meninggalkan dermaga, tapi hati Arai tak tenang. Ada satu orang yang belum ia pamiti. Siapa lagi kalau bukan Zakia Nurmala.

Namun, ia harus tetap berangkat. Dilihatnya sepanjang dermaga tak ada sosok yang dicarinya. Kapal kian menjauh dan kini keseluruhan dermaga sudah nampak. Ternyata ada yang berdiri di sana. Berdiri di dermaga paling ujung, seorang gadis dengan selendang merah yang menutupi kepala. Ia melambai dengan anggun. Sebuah simpul senyum tampak begitu ikhlas. Arai pun membalas lambaian itu. Ia lega, bersama doa dari Zakia Nurmala, ia akan menakhlukkan dunia.

“Adeeekkk.. Tunggu abang pulang yaaaa..” teriakan samar dari Arai di kejauhan.

Sebuah anggukan kecil menjadi jawabnya. Senyum penuh keyakinan segera terpampang di wajah Arai. Selat Malaka dan Laut Jawa siap ia layari menuju ke Tanjung Priok, Jakarta.

Arai dan ikal tiba di Jakarta. Tak ada tujuan yang jelas. Kerja serabutan pun harus dilakukan sembari menunggu masa penerimaan universitas.

Beruntung mereka sama-sama lolos masuk ke IPB, meski dengan jurusan yang berbeda. Tinggal dalam satu kos, mereka kembali bahu-membahu mencari biaya hidup. Hingga akhirnya mereka wisuda pun juga bersama-sama.

Kini saatnya mereka melanglang buana ke Eropa. Mereka berhasil mendapatkan beasiswa ke Eropa, ke Universitas Sorbonne, seperti mimpi mereka. Sebuah kisah perjuangan luar biasa, anak udik akan kuliah gratis Di Eropa.

Kembali berat bagi Arai, kini pujaan hatinya akan terpisah kian jauh. Tak lagi mudah tentunya berkirim surat atau kartu pos. Tak lagi mudah baginya menjaga hati Zakia Nurmala agar setia padanya. Zakia Nurmala yang begitu mempesona, pasti akan ada banyak lelaki Belitong yang siap merebutnya.

 >> Bersambung ke: [Part 4 …]

[Kisah ini diadaptasi dari kisah Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov (Tetralogi Laskar pelangi) karya Andrea Hirata.]

– –
Sebuah karya saduran All Chussna
oleh san

Dipublikasi di Cerpen, Cerpen Arai & Zakia | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sebuah Kisah Cinta Paling Romantis [Part 4 …]

>> Mulai dari: [Part 1]

Bandung, 9 Desember 2014

Waktu terus berjalan. Setahun telah berlalu bagi Arai dan Ikal di Eropa. Ini adalah badai ujian kesetiaan bagi Arai dan Ikal. Akankan Arai setia pada Zakia Nurmala. Akankah Ikal setia pada A Ling.

A Ling adalah cinta pertama Ikal. Pertama kali bertemu, Ikal masih bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong bersama Laskar Pelangi. Saat itu ia harus mengayuh sepeda 80 kilometer ke Manggar demi membeli sekotak kapur. Di sana lah, di toko Sinar Harapan, ia jatuh cinta. Saat hendak membeli kapur, ia diminta engkoh pemilih toko untuk mengambilnya sendiri ke belakang. Saat ia menunggu, muncullah sebuah tangan putih yang menyodorkan sekotak kapur. Tangan itu memiliki kuku yang begitu indah. Saat itulah ia jatuh cinta, jatuh cinta pada kuku terindah di dunia, kuku milik A Ling.

Sayang tak lama A Ling harus ikut keluarganya ke Jakarta. Di Jakarta Ikal mencari informasi, katanya A Ling sudah pindah ke Eropa, tepatnya di Russia. Inilah salah satu misi Ikal ke Eropa, menemukan jejak langkah A Ling.

Namun, ternyata gempuran badai ujian kesetiaan mahadasyat menerpa. Gadis-gadis Eropa yang cantik berceceran di mana-mana. Kesetiaan pun bisa dengan mudah luntur.

Ikal pun akhirnya terjerat pada hati seorang gadis primadona kelas, bernama Katja. Mereka resmi berpacaran. Entah apa alasan Katja bisa jatuh cinta pada pria berambut ikal ini. Padahal masih banyak mahasiswa lain yang mengejarnya, lebih ganteng pula.

Efek dari pacaran ini, waktu Ikal banyak tersita untuk Katja. Kuliah Ikal pun kedodoran. Nilainya anjlok di akhir semester.

Lain halnya dengan Arai. Ia tetap di jalur cepat. Ia fokus pada kuliahnya. Secepatnya ia ingin lulus dengan nilai yang terbaik. Ia juga masih setia pada Zakia Nurmala. Cepat lulus, cepat pulang, lalu berjumpa lagi dengan Zakia Nurmala.

Berat memang perjuangan Arai dan Ikal. Tapi, berat pula perjuangan Zakia Nurmala. Ia harus teguh pada sesuatu yang tidak pasti. Ia setia menanti kepulangan Arai yang tak jelas kabarnya, di Eropa nun jauh sana. Apakah Arai tetap setia, atau jangan-jangan penakhluk hatinya itu telah bermain cinta dengan wanita Eropa yang tersohor kecantikannya.

Terpaan ujian kesetiaan pun juga menerpa Zakia. Beberapa lelaki Manggar mulai mendekatinya. Satu dua bahkan terang-terangan mengajak menikah. Orang tuanya pun mulai mempertanyakan setiap aksi penolakan yang dibuat Zakia.

 >> Bersambung ke: [Part 5 End]

[Kisah ini diadaptasi dari kisah Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov (Tetralogi Laskar pelangi) karya Andrea Hirata.]

– –
Sebuah karya saduran All Chussna
oleh san

Dipublikasi di Cerpen, Cerpen Arai & Zakia | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar